Hambatan Komunikasi dan Sedikit Dialektika Budidaya Udang

Hal ini masih bagian yang tersulit dan semua orang merasakan hal yang sama. Hambatan komunikasi bisa berasal dari dua hal, pertama karena adanya prasangka masing-masing pihak, sehingga membentengi diri dalam menghasilkan kesepakatan, kemudian dapat dipraktekkan secara bersama. Prasangka ini bisa bermula dari sejarah panjang praktek perikanan atau sejarah panjang ide mengenai metode perikanan. Untuk itu, kita perlu telusuri berbagai pemikiran budidaya udang dalam rentang sejarah pertambakan, untuk melihat sebentuk aksi dan reaksi petambak, yang akhirnya memberi semacam cara pandang tersendiri terhadap budidaya udang itu sendiri.

Sejauh mana ide-ide berkomposisi, yang mulanya berangkat dari masyarkat sendiri, kemudian direspon oleh kelompok berkepentingan, lalu direspon kembali oleh masyarakat. Dalam kelabat metodelogi ini, terdapat pasang surut, dimana kelompok kepentingan biasanya mendominasi, hingga kalah secara objektif di alam (kegagalan panen berlarut-larut). Lalu digantikan dengan sistem masyarakat. Namun, sistem masyarakat itu sendiri, sudah tertancap residu-residu, yang sulit disingkirkan dalam waktu singkat. Residu itu betul-betul hadir dalam tanah dan air, dan terendam dalam alam berfikir masing-masing pelaku.

Tugas kita adalah bagaimana menembus cara pandang mereka dengan memperlihatkan bukti-bukti baru yang menawarkan alternative terhadap cara pandang tersebut.
Menembus cara pandang dimulai dengan adanya keyakinan dengan paradigma baru, yang berakar pada pandangan objektif-ilmiah-serta memahami dengan baik dinamika meteri itu sendiri (dialektika). Objektivitas yang terus menerus digali ini akan terpadu dengan sendirinya dengan pandangan objektif mereka, yang mungkin saja kurang sempurna, dalam artian cara pandang terbatas oleh hal-hal yang kasat mata dan belum pada ujung realitas material itu sendiri.

Kedua, kementokan, cara pandang kasat mata ini disebabkan oleh rutinitas-rutinitas, dengan jangkauan pekerjaan fisik yang sangat banyak. Satu orang petambak harus mengawal 3 – 5 petak tambak. Sehingga, petambak kurang awas dan terkesan menyepelekan substansi budidaya udang. Rutinitas yang tidak ada habis-habisnya ini tidak diikuti oleh refleksi yang memadai. Media refleksi yang biasanya terintegrasi dalam kebudayaan sudah semakin sulit ditemukan. Kumpul-kumpul bersama masih biasa terjadi, tapi inti pembicaraan dan kesimpulan bersama belum mampu menghasilkan kebijakan bersama. Untuk itu, jika ingin lebih mematangkan proses dialektika budidaya, forum-forum petambak harus diperbanyak, dengan memfasilitasi pergulatan ide, hingga ditemukan ide cemerlang yang diakui secara bersama.

Berbicara mengenai ide, terdapat dua ide yang saling merebut pengaruh. Ide pertama adalah ide yang bersifat praktis dalam artian orientasi jangka pendek dan bersifat individualistik. Ide ini menekankan pada penggunaan sarana teknologi yang dapat memacu produktivitas, namun tidak begitu mempedulikan dampak dari penggunaan input-input budidaya tersebut. Proses – proses seperti ini memang dengan cepat memperoleh keuntungan, namun dalam jangka waktu tertentu, akan melebihi kapasitas lahan dan lingkungan, sehingga dalam prakteknya, semakin lama semakin mengalami degradasi, dan masing-masing pihak melakukan bunuh diri lahan, dan turut terjadi bunuh diri kawasan.

Ide kedua adalah ide yang bersifat berkelanjutan dan jangka panjang, dengan memedulikan sesama atau bersifat kolektif. Penggunaan sarana budidaya lebih sederhana, dengan input budidaya yang lebih bersifat strategis dan harmoni terhadap material alam (mineral-mineral, bakteri-bakteri, dan senyawa-senyawa kompleks yang mendukung kehidupan). Penerapan sistem ini lebih bijaksana, dengan daya lenting lingkungan yang tinggi.

Namun, ditengarai semangat zaman yang mengarah penghambaan pada dunia materi ini, kedua karakter sistem ini saling menyerap, dengan intensitas berbeda. Masing-masing institusi yang bermain di arena ini pun, dengan daya energinya, menyentuh titik-titik kritik dan strategik, ada yang melemahkan dan ada yang menguatkan.

Sejauh ini, dalam alam berfikir saya sendiri, masih dapat diterima. Tapi kita tak menyerah begitu saja, selama kita memperoleh hikmah darinya, lalu dapat mengarahkan dan menguatkan sistem yang berkelindan, menuju keberlanjutan usaha, keseimbangan alam, demi kebahagiaan manusia yang hidup bermakna di kolam indah ini…

Idham Malik

No Response

Leave a reply "Hambatan Komunikasi dan Sedikit Dialektika Budidaya Udang"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.